
Banyak pendapat yang diungkap di berita koran maupun televisi, masing-masing dengan pengalaman mereka pribadi selama berinteraksi dengan anggota NII, dan ada juga beberapa orang mantan petinggi NII. NII disebut-sebut telah menyusun struktur pemerintahan secara lengkap. Mulai dari lurah, camat, bupati, gubernur, hingga presiden dan para menteri. Termasuk juga disebut ada yang menjadi polisi. Cukup lengkap seandainya mereka bisa mengambil alih pemerintahan Indonesia. Masing-masing langsung menjalankan fungsinya, meski beda kualitas, tapi setidaknya masing-masing telah mengetahui tugas dan kewajibannya.
Beberapa "korban" NII mengatakan, (saya kasih tanda petik, karena saya tidak yakin 100% mereka adalah benar-benar korban) awalnya mereka diajak teman yang telah mereka kenal, mula-mula sekedar ngobrol, hingga setelah pertemuan kesekian, mulailah mereka membahas hal-hal yang menjurus ke doktrin-doktrin mereka. Dengan kutipan-kutipan yang sengaja diambil sesuai tujuan doktrinasi mereka, akhirnya sebagian "korban" terpengaruh. Itu yang menunjukkan keterampilan mereka menguasai psikologis "korban" hingga akhirnya beralih mendukung "perjuangan" mereka.
Berdasarkan yang saya baca dan saya dengar dari media, tidak semua korban bisa dianggap orang yang benar-benar korban. Sebagian dari mereka tidak layak disebut korban, karena sebenarnya dalam diri mereka memiliki keinginan atau tujuan yang sama, dan akhirnya mereka menemukan komunitas yang sesuai. Mereka secara sadar ikut dan mendukung gerakan bawah tanah tersebut. Sebagian lainnya bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang mudah dikendalikan, dengan beberapa kalimat provokatif yang terus diulang-ulang, mereka-pun mau ikut dan menjadi korban. Secara psikologis semua orang bisa dipengaruhi dengan cara itu, syaratnya hanya satu, secara sadar mereka setuju. Tanpa persetujuan dari "korban", apapun pengaruh dan sugesti yang diberikan, tidak akan mampu mengubah pendiriannya. Maka itu, kata korban diatas, saya beri tanda petik, karena saya tidak yakin mereka benar-benar korban.
NII yang banyak diberitakan sekarang ini dikatakan tidak sama dengan NII Kartosuwiryo. Menurut beberapa mantan, tujuan mereka tidak sama. NII sekarang ini hanya bertujuan menipu korban, untuk mendapatkan uang. Ini dibuktikan dengan banyaknya korban yang telah menyetorkan uang cukup banyak. Tidak mungkin korban-korban tersebut dari kalangan orang miskin. Sebagian besar korban berasal dari kalangan mahasiswa, bahkan ternyata proses rekrutmen telah dimulai sejak SMP dan SMU.
"Masalah" dimulai sejak seseorang menyatakan diri menjadi warga NII, dimulai dari membayar sejumlah uang saat awal, dan iuran rutin yang harus dibayarkan setelahnya. Uang-uang itu "katanya" sebagai modal perjuangan mendirikan Negara Islam Indonesia. Berbagai macam solusi diberikan kepada anggota tersebut untuk mendapatkan uang, mencuri, menipu, dan segala macam cara dihalalkan untuk mengambil uang dari orang yang dianggap kafir. Bagi mereka orang kafir adalah orang yang bukan anggota NII, siapapun itu, termasuk juga orang tua sendiri. Bahkan pernah disebutkan, melacurkan diri untuk mendapatkan uang adalah halal.
Bila dihitung-hitung, total setoran uang dalam 1 bulan mencapai jutaan, tergantung dari pekerjaan anggota, semakin tinggi pendapatannya, semakin besar target setorannya. Selain target setoran uang, anggota juga ditarget menjaring korban lainnya. Cara kerjanya sama dengan bisnis MLM, member get member. Korban baru-pun mendapat beban target yang sama. Itu sebabnya, orang-orang yang menjadi target rekrutmen berasal dari kalangan orang mampu atau orang yang sudah memiliki pekerjaan cukup mapan. Belum pernah ditemukan anggota yang pekerjaannya serabutan, bahkan pengangguran.
Karena modus pengumpulan uang inilah, yang mungkin membuat aparat kepolisian belum melakukan tindakan. Tidak seperti GAM, RMS dan gerakan separatis di Papua, yang jelas-jelas menunjukkan posisinya terhadap Indonesia, dan langsung diserbu. Kita belum tahu, tindakan apa yang sudah dan akan dilakukan oleh polisi dalam kasus NII kali ini. Dianggap sebagai penipuan atau sebagai gerakan separatis.
Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Negara_Islam_Indonesia
http://id.wikipedia.org/wiki/Sekarmadji_Maridjan_Kartosoewirjo
0 comments:
Poskan Komentar