Kamis, Oktober 13, 2011

Seandainya Tak Ada Mobil

Artikel ini bukan mencontek yang dimuat pada yahoo 12 Oktober 2011. Hanya judulnya saya pakai untuk menunjukkan isinya yang memiliki kesamaan topik. Awal bulan ini saya diingatkan oleh hp saya, untuk membayar pajak kendaraan bermotor setiap tahun. Saat itu muncul pertanyaan, bagaimana caranya mengurangi kemacetan di jalan-jalan di kota-kota besar Indonesia.



Setelah muncul pertanyaan pertama itu, terpikir beberapa penyebabnya. Seperti yang pernah saya baca (dan saya alami sendiri), sebagian besar warga Indonesia menilai kendaraan pribadi, bisa berupa sepeda motor atau mobil, sebagai alat transportasi yang lebih murah dan lebih aman dibandingkan kendaraan umum, apapun jenisnya. Tentunya penilaian ini hanya berlaku untuk perjalanan sehari-hari, berangkat dan pulang kerja.

Pendapat lain lagi yang pernah saya baca, kendaraan pribadi, terutama mobil adalah sebuah kebanggaan bila bisa memilikinya, sebagian kecil orang, malah memilih mobil sebagai barang koleksi. Terakhir, kendaraan pribadi adalah sumber pendapatan bagi produsen mobil, penjual mobil, makelar mobil, negara melalui pajak, polisi melalui proses pembuatan surat-suratnya, sehingga apapun masalah yang timbul, belum pernah ada peraturan yang membatasi produksi kendaraan. Berita-berita yang muncul seringkali malah menyebutkan penjualan motor, mobil mencapai target.

Bila kita membandingkan perilaku "bangga" atas kepemilikan mobil, kita bisa melihat hal yang sama dengan bangganya orang Indonesia memiliki Blackberry. Penjualan BB di Indonesia disebut paling laris dibandingkan dengan negara-negara lain. Bedanya pada volume barang itu. Satu orang bisa saja memiliki BB dan beberapa handphone, dan semuanya bisa dimasukkan ke dalam kantong. Sedangkan mobil dan motor, butuh garasi atau menggunakan tepi jalan untuk parkir. BB dan HP punya umur yang pendek, maksimal lima tahun, barang tersebut sudah benar-benar mati total, atau sudah malu dibawa-bawa, malah seringkali baru berumur satu tahun sudah dijual untuk membeli tipe baru.

Mobil dan motor, hanya bisa disebut mati total saat terbakar, kecelakaan parah atau biaya reparasi sudah terlalu mahal. Bila terjadi kerusakan, selama bisa diperbaiki di bengkel, pasti kita lebih memilih memperbaikinya daripada membeli mobil atau motor, bisa baru ataupun bekas. Umur pemakaiannya sudah pasti sangat panjang, saya masih menjumpai mobil dan motor yang keluaran tahun 1980-an, saat ini sudah berumur 30-an tahun, dan masih bisa dipakai wira-wiri.

Bila saya mencoba meniru cara pejabat kita membandingkan dengan negara lain, dengan gaji rata-rata pegawai di Indonesia, mampu membeli mobil setelah menabung selama 8 (delapan) tahun lebih, sedangkan di Malaysia gaji rata-rata pegawai bisa dipakai untuk membeli mobil setelah menabung selama 8 (delapan) bulan. Maka tidak heran, bila kendaraan tersebut rusak, akan memilih perbaikan di bengkel daripada membuang kendaraan tersebut dan membeli lagi yang baru. Bila kita bandingkan lagi, negara-negara maju sudah mengalami permasalahan dengan sampah mobil bekas, coba bandingkan dengan di Indonesia, mobil bekas-pun, masih laku diperjualbelikan, di-preteli, di-kanibal, agar "sampah" tadi masih memiliki nilai.

Di beberapa negara, misalnya Singapura dan Jepang, pajak kendaraan pribadi sangat tinggi, apalagi semakin bertambahnya umur kendaraan, sehingga hanya sedikit orang yang ingin memilki mobil. Pemerintah telah memberikan layanan kendaraan umum yang memuaskan, sehingga memiliki mobil lebih terasa sebagai beban pengeluaran yang besar.

Dilihat dari biaya yang harus dikeluarkan untuk naik kendaraan umum di kota-kota besar di Indonesia, dibandingkan dengan biaya BBM motor atau mobil sekalipun, tentunya masih lebih murah membayar biaya BBM. Untuk sampai ke kantor, saya harus naik angkot 1 kali, bus kota 1x dan 1 kali lagi angkot. Untuk perjalanan pulang juga sama, ditambah sedikit jalan kaki masing-masing 500m. Bila saya menggunakan motor, dalam 1 minggu saya hanya menghabiskan biaya 20 ribu rupiah, untuk 4.4 liter premium, bila saya memakai pertamax sekalipun, itu masih jauh lebih murah daripada naik kendaraan umum yang dalam 1 hari saya bisa mengeluarkan 20 ribu, setara harga premium untuk 1 minggu. Jadi pemerintah perlu memikirkan lagi ide-ide mereka bila mengkampanyekan naik kendaraan umum, gaji bisa banyak terbuang untuk biaya angkot.

Layanan kendaraan umum di Indonesia juga masih jauh dari standar kenyamanan minimum, bila naik angkot, duduk kiri 5 orang kanan 7 orang. Bayangkan, standar macam apa itu ? Standar ergonomi jaman sekarang sudah berubah, ukuran lebar pantat tiap orang sudah lebih lebar daripada jaman dulu. Kursi bis kota yang "kelihatannya" lebih manusiawi, 1 orang 1 kursi, juga menganut standar lebar pantat jaman dulu, kurang lebar.

Jadi impian taman kota yang diidam-idamkan penulis artikel tadi masih sangat jauh, selama sarana transportasi belum bisa "dipilih" sebagai prioritas utama. Selamanya penjualan kendaraan bermotor akan laris. Seandainya semua kendaraan umum menggunakan sistem persis seperti yang dijalankan bus Transjakarta, yaitu berjalan sesuai urutan, dan gaji para sopir secara bulanan, masalah saling serobot di jalan sudah sangat berkurang, suasana horor di jalan akan banyak berubah.

Kenyamanan naik angkot juga meningkat, kosong atau penuh, jalan sesuai jadwal, bila terlihat penuh kita akan akan menunggu angkot selanjutnya, karena yakin datang 5 menit lagi (misalnya). Sopir tidak berebut penumpang, sehingga dia akan patuh untuk berhenti di halte, yang secara langsung akan memaksa penumpang untuk antri di halte, tidak akan seenaknya memberhentikan angkot di pinggir jalan. Tentunya ini juga masih impian.




kutipan :
http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/seandainya-tak-ada-mobil.html

Seandainya Tak Ada Mobil

From Details Blog Picture

Di Yogyakarta beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah garasi yang telah berubah fungsi menjadi ruang musik yang nyaman di kantor Kunci Cultural Studies Center di Yogyakarta. Saya jadi berkhayal, betapa indahnya seandainya tak ada mobil.

Keberadaan mobil tidak hanya membutuhkan jalan raya, tetapi juga garasi, jalan masuk ke garasi, dan pompa bensin. Selain itu, mobil juga membutuhkan pompa bensin, bengkel, tempat cuci, tempat parkir, dll. Bayangkan bila tidak ada mobil: tempat-tempat itu bisa berubah fungsi menjadi hal lain yang lebih menyenangkan.

Misalnya halaman gedung pusat perbelanjaan Sarinah di Jl Thamrin Jakarta Pusat, yang sekarang berupa lapangan parkir yang gersang, dapat berubah menjadi taman kota yang keren, hijau, sejuk, penuh bunga. Lokasinya pun tepat — mengingat sepanjang jalan besar itu tidak ada taman kota satu pun.

Contoh lain: pada tahun 2005, jalan layang di Seoul, Korea, sepanjang 8,4 km telah dihancurkan. Sungai Cheonggyecheon di bawahnya dihidupkan kembali.

Tetapi kenyataannya makin banyak orang, makin sulit membayangkan tidak ada mobil. Di Indonesia ada sekitar 150 mobil per 1000 orang (Di Jakarta dan sekitarnya, jumlahnya 350). Di Singapura ada 325. Lalu Amerika dan Australia 700.

Dan di Eropa “hanya” sekitar 500 hingga 700 mobil per 1000 orang.

Maka saya tak heran bila khayalan saya akan taman kota yang indah di Sarinah sulit terwujud. Halaman Sarinah pun tetap jadi tempat parkir yang gersang, kering-kerontang, terik akibat panas matahari — dan mesin mobil.

Kalau khayalan Anda sendiri bagaimana kiranya?

Marco Kusumawijaya adalah arsitek dan urbanis, peneliti dan penulis kota. Dia juga direktur RujakCenter for Urban Studies dan editor http://klikjkt.or.id.

0 comments: