Selama ini banyak orang menganggap banjir terjadi karena banyak sampah yang menghambat aliran air, atau malah air tidak bisa mengalir karena banyaknya sampah yang menutup pintu air. Dari banjir yang sekarang terjadi, kesimpulan yang menyatakan sampah adalah penyebab banjir benar-benar tidak valid. Bagian mana yang tersumbat, sedangkan arus air begitu cepatnya. Kali ini penyebabnya adalah debit air yang jauh melebihi kapasitas sungai. Hingga jalan yang berada sejajar dengan sungai, berubah menjadi sungai dengan kecepatan arus yang sama. Diperparah dengan semakin berkurangnya lahan terbuka yang lebih mudah menyerap air.Sebelum tahun 2000 masih terdapat ladang sayur di sebelah kantor kecamatan. Mundur ke tahun sebelum 1990, pasar mangkrak yang berada di sebelah sungai, saat itu masih berupa tanah lapang yang banyak ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Saat itu masih terdengar suara jangkrik, katak, juga beberapa kali ular masuk ke dalam rumah. Sejak ladang sayur berubah fungsi menjadi rumah, seingat saya, sejak itulah banjir mulai terjadi.
Seperti yang saya sebut diatas, banjir kali ini bukan karena sampah. Air yang mengalir tidak terlihat membawa banyak sampah, sedikit sampah terlihat, saya kira wajar, bisa karena tong sampah yang isinya hanyut kena arus air, dan sudah pasti juga karena sebagian kecil penduduk sekitar sungai menumpahkan isi tong sampahnya ke sungai, padahal ditempat dia berdiri, bak sampah beton miliknya tidak terisi penuh. Dia mungkin merasa hal itu bukan masalah besar, toh sampahnya tidak cukup banyak untuk menimbulkan banjir. Di tempat saya berdiri ada sedikit sampah plastik, ranting pohon, kertas, sisa-sisa makanan yang meletus dari bungkusnya setelah sempat terinjak entah oleh siapa. Dan yang agak menjijikkan, ada sampah yang terlihat mirip bangkai tikus yang telah hancur.
Tidak ada kegiatan lain yang bisa saya kerjakan saat menunggu surutnya banjir, selain mengamati orang-orang di sekeliling saya yang sebagian berteduh di warung sambil makan nasi bebek, malam itu nasi bebeknya benar-benar laris. Sebagian berusaha menyalakan motornya yang mogok karena tenggelam. Sebagian lagi berjalan menerobos banjir. Orang-orang datang dan pergi entah sudah berapa banyak. Anak-anak seusia smp sengaja berkeliling menikmati banjir. Hanya ada satu mobil yang terjebak di lokasi tanpa bisa kemana-mana sebelum air benar-benar surut, rumahnya di Petemon yang menurut dia, banjirnya lebih dalam.
Beberapa bapak-bapak yang saya "temani" menunggu air surut kencing dengan bebasnya di arus banjir, seorang anak dari keluarga yang tinggal di stan-stan pasar mangkrak, beol di teras stan, yang langsung hanyut terbawa arus. Seorang remaja cewek terlihat bersih, mungkin tinggal di gang itu, sambil berpayung karena masih gerimis, asyik memotret situasi banjir dengan BB, mungkin langsung di upload ke FB. Beberapa orang yang akhirnya bosan menunggu banjir, mencari-cari tas plastik dari barang-barang yang terdampar disitu, untuk menutup kenalpot motornya, kemudian diikat, agak air tidak leluasa masuk, mencelupkan motornya ke banjir yang sekarang sudah tinggal sepaha orang dewasa, menuju kerumah.
Jauh berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini banjir lebih cepat surut, jam 4 pagi jalanan sudah tidak tergenang air lagi. Beberapa tahun sebelumnya ketinggian air tidak separah hari ini, tapi air baru surut sekitar pukul 10 keesokan harinya.
0 comments:
Poskan Komentar